Seni Dan Budaya Tanjungpinang, Kepulauan Riau

14 Likes Comment

Tanjungpinang.info – Seni dan budaya Tanjungpinang sudah berkembang lama di tengah masyarakat Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Seni dan budaya di daerah tersebut sangat dipengaruhi oleh kebudayaan suku Melayu dan etnis Tionghoa serta dipengaruhi oleh budaya umat Islam. Suku Melayu yang berkembang di daerah tersebut merupakan suku yang beragama Islam. Namun tidak hanya Islam saja, sebab seni dan budaya yang ada di Tanjungpinang juga sudah terpengaruh oleh kebudayaan umat Kristen, Buddha dan Konghucu.

Seni Kebudayaan Melayu, Tanjungpinang, Kepri
Seni Kebudayaan Melayu, Tanjungpinang, Kepri

Tahukah Anda apa saja seni dan budaya Tanjungpinang? Nah, jika Anda belum mengetahuinya, mari simak informasi berikut ini.

Seni Dan Budaya Tanjungpinang Yang Beranekaragam

Seni dan budaya Tanjugpinang Kepulauan Riau mungkin hampir sama dengan daerah lain seperti Sumatera, Malaysia dan Singapura. Semua itu disebabkan karena wilayahnya yang berdekatan dan juga didominasi oleh suku Melayu.
Nah, di bawah ini merupakan penjelasan dari seni dan budaya Tanjungpinang yang perlu Anda ketahui:

1. Rumah Adat

Seni dan budaya Tanjungpinang yang pertama adalah rumah adat. Tanjungpinang khususnya Kepulauan Riau memiliki dua rumah adat yaitu Rumah Belah Bubung (Rabung atau Bumbung Melayu) dan Rumah Limas Potong.

  • Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung merupakan salah satu rumah adat Kepulauan Riau yang ada di Indonesia. Rumah ini dikenal juga dengan nama rumah Bubung atau Bumbung Melayu. Menurut cerita, nama rumah yang diberikan merupakan pemberian dari orang-orang asing yang dulu datang ke Indonesia seperti Belanda dan China.

Model rumah Belah Bubung ini sama dengan rumah panggung. Tingginya mencapai 2 meter dari tanah dan ditopang dengan beberapa tiang penyangga. Atap rumah berbentuk mirip seperti pelana kuda, dan untuk rumah induknya dibagi menjadi 4 bagian yaitu ruang induk, ruang penghubung, selasar dan dapur.

Untuk bahan dasar pembuatan rumah yaitu dari kayu, dan proses pembuatannya tidak boleh sembarangankarena harus melalui beberapa tahap yang konon dipercaya untuk menghindari pemilik rumah dari kesialan. Besar kecilnya rumah tergantung dari ekonomi sang pemilik rumah. Semakin besar rumah maka kemampuan ekonomi yang dimiliki pemilik rumah semakin banyak dan begitu pula sebaliknya.

Menurut bentuk atapnya, rumah Belah Bubung dibagi lagi menjadi beberapa jenis yang diantaranya rumah Lipat Pandan (atapnya curam), rumah Atap Layar (disebut juga dengan Ampar Lambu), rumah Lipat Kajang (atapnya agak mendatar), rumah Perabung Melintang (atapnya tidak sejajar dengan jalan) dan rumah Perabung Panjang (atapnya sejajar dengan jalan).

  • Rumah Limas Potong

Sama seperti rumah Belah Bubung, besar kecilnya rumah Limas Potong juga ditentukan dari seberapa besar kemampuan pemiliknya. Namun tingkat ekonomi bukanlah sebagai penentu yang mutlak. Sebab, yang paling utama dalam membuat rumah adalah keserasian antara rumah dengan pemiliknya.

Guna menentukan keserasian tersebut, sang pemilik rumah akan menghitung ukuran rumahnya dengan ukuran hasta dari satu sampai lima. Adapun urutannya adalah ular berenang, meniti riak, riak meniti kumbang berteduh, habis utang berganti utang dan utang lima belum berimbuh. Diantara ke lima urutan tersebut, urutan yang paling baik adalah hitungan tepat di riak meniti kumbang berteduh.

baca juga: Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang

2. Musik Ghazal

Seni dan budaya Tanjungpinang yang kedua adalah musik Ghazal. Musik ini merupakan musik tradisional yang berkembang di Tanjugpinang khususnya Kepulauan Riau. Musik ini memadukan antara keindahan musik dan kedalaman dari makna syair. Wilayah yang menjadi tempat berkembangnya musik Ghazal adalah Pulau Penyengat yang terletak di sebelah Pulau Bintan.

ayoritas masyarakat di Pulau Penyengat ini adalah beragama Islam. Hal inilah yang menjadikan kesenian yang berkembang juga sangat kental dengan Islam. Salah satu di antaranya adalah musik Ghazal yang dibawa oleh kaum saudagar Arab dan Persia sejak abad ke 18.

Musik ini merupakan perpaduan antara kebudayaan ayng dibawa kaum saudagar dengan kebudayaan masyarakat setempat. Salah satu yang menjadikan pembeda antara musik Ghazal Melayu dengan musik Ghazal yang asli adalah adanya syair-syair Melayu di dalam permainan musik tersebut.

Masuknya musik Ghazal ke Kepulauan Riau tidak lepas dari peran seorang tokoh yang bernama Lomak. Lomak menyebarkan menyebarkan musik Ghazal ke beberapa wilayah seperti Johor, Malaysia dan akhirnya sampai ke Pulau Penyengat.

3. Tari tradisional Zapin

Tari yang terkenal di Tanjungpinang, Kepulauan Riau adalah tari Zapin. Tari ini dikembangkan berdasarkan unsur sosial masyarakat sekitar dengan untukapan wajah batiniah dan ekspresinya. Tarian ini berkembang di daerah Riau dengan berbagai tata nilai. Awalnya, tarian ini merupakan bentuk permainan menggunakan kaki yang dimainkan oleh laki-laki bangsa Persia dan Arab. Nama Zapin sendiri dalam bahasa Arab disebut sebagai Al-RaqhWalZafn. Perkembangan tari Zapin di Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh pedagang Arab dari Hadramaut.

Kostum dan tat arias yang digunakan dalam tarian Zapin yang dilakukan oleh pria yaitu menggunakan baju karung cekak musang dan seluar, songket, kopiah,dan bros. Selanjutnya untuk sang wanita yaitu mengenakan baju tradisional karung labuh dengan kain songket, kain samping, anting-anting, selendang tudung, manto, kalung, kembang goyang dan riasan sanggul lipat pandan serta conget.

4. Pakaian Tradisional Baju Kurung

Senidan budaya Tanjungpinang yang selanjutnya adalah Baju Kurung. Baju ini memiliki ciri bentuk yang longgar pada lubang lengan, dada dan perut. Saat digunakan, bagian bawahnya sejajar dengan pangkal paha, namun ada juga yang memanjang dan sejajar dengan lutut. Baju Kurung tidak terdapat kancingnya, namun hanya seperti kaos. Selain itu, juga tidak memiliki kerah dan setiap ujungnya direndra. Dibeberapa bagian juga dihiasi dengan sulaman yang berwarna keemasan.

Awalnya, baju Kurung digunakan oleh kaum perempuan kerajaan dalam upacara kebesaran Melayu dan digunakan dengan kain songket yang dijadikan sarungnya. Ditambah lagi dengan perhiasan emas dan tas kecil atau kipas. Namun karena masyarakat Riau kebanyakan kaum Islam, banyak yang memadukan baju Kurung ini dengan jilbab.

Sampai akhirnya, saat ini baju Kurung sudah dipakai oleh masyarakat biasa, bahkan digunakan anak-anak untuk mengaji atau ibu-ibu untuk ke pasar tanpa menggunakan pernak-pernik mewah.

5. Upacara Adat

Beberapa upacara adat yang ada dan dilaksanakan oleh masyarakat di daerah Tanjungpinang, Kepulauan Riau di antaranya basuh lantai di lingga, haul jama’ di lingga, makan sirih di Kepulauan Riau, malam tujuh likur di lingga, mandi syafar Melayu di lingga, Ratif saman di Lingga, dan masih banyak upacara-upacara adat yang lainnya.

6. Lagu Daerah

seni dan budaya Tanjungpinang yang terakhir adalah lagu daerah. Lagu daerah Kepulauan Riau juga sangat banyak, di antaranya anak Kepulauan Riau, Pahlawan Riau, Pak NgahBalek, DikirKepri Bermadah, Gunung Bintan, Hang Tuah, Perwiraku, Selayang Pandang, Soleram, Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu dan masih banyak lagi lagu daerah yang lainnya.
Itulah informasi mengenai beberapa seni dan budaya Tanjungpinang, Kepulauan Riau yang bisa Anda ketahui.

Semoga informasi tersebut dapat menambah wawasan Anda tentang Tanjungpinang khususnya seni dan budayanya serta bisa dijadikan referensi jika suatu saat membutuhkan. Indonesia memang kaya akan seni dan budaya yang beragam. Sebagai warga negara Indonesia, sudah sepantasnya kita bangga dan berusaha menjaga kelestariannya.

You might like

About the Author: Admin Tanjungpinang.info

Mengulas seluk beluk kota tanjungpinang dari berbagai sumber. Informasi dikumpulkan secara singkat dari tim penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *